Laman

Kamis, 24 Maret 2011

SEKTOR PERTANIAN

SEKTOR PERTANIAN


1. Pendahuluan

Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa dipahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam serta pembesaran hewan ternak meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.

Bagian terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDB dunia. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor - sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.





2. Pembahasan
• Peranan sektor pertanian
 Ekspansi sector ekonomi tergantung pada pertumbuhan output di sector pertanian. Permintaan terhadap sumber pemasok makanan dan penawaran sebagai sumber bahan baku bagi keperluan produksi disektor lain seperti manufaktur dan perdagangan ini disebut kontribusi produk.
 Menurut Kuznets kontribusi pasar adalah Negara agraris yaitu Indonesia pertanian sumber penting bagi pertumbuhan permintaan domestic bagi produk sector lainnya.
 Kontribusi factor-faktor produksi : penawaran tenaga kerja tidak terbatas, terbukti banyak kasusu surplus dari pertanian transfer ke industry sector lainnya.
 Sumber penting bagi surplus neraca perdagangan sumber devisa meningkatkan hasil ekspor pertanian menggantikan impor


• Kontribusi produk
Kontribusi pertanian dilihat dari hasil relasi antara pertumbuhan dari kontribusi tersebut debgan pangsa PDB awal dari pertanian dan laju pertumbuhan relative dari produk-produk netto pertanian dan non pertanian.
Pertanian mempunyai kontribusi penting terhadap perekonomian yaitu kontribusi produk dalam sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan juga kontribusi pasar. Peran penting lainnya adalah dalam penyediaan kebutuhan pangan manusia apalagi dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk yang berarti bahwa kebutuhan akan pangan juga semakin meningkat. Di Indonesia sebagai Negara agraris, ada peran tambahan dari sektor pertanian yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat yang sebagian besar sekarang berada di bawah garis kemiskinan. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik), jumlah penduduk miskin pada tahun 2004 mencapai 36,147 juta orang, dan 21,265 juta (58,8%) di antaranya bekerja di sektor pertanian.
Menurunnya tingkat kontribusi sektor pertanian terhadap PDB dan adanya ancaman kerawanan pangan yang disertai dengan ancaman ketergantungan terhadap pangan impor (food trap) serta masih banyaknya petani yang masih berada dibawah garis kemiskinan maka perubahan menuju yang lebih baik malalui pembangunan pertanian sangat diperlukan. Hakikat dari pembangunan adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat sehingga dalam pembangunan harus berlandaskan pada pemerataan. Jadi bukan masalah peningkatan materi sebagai tujuan yang pertama dan terutama. Demikian juga dalam pembangunan pertanian, yang pertama-tama adalah bukan masalah peningkatan produksi pertanian melainkan upaya pembebasan manusia petani, dan termasuk di dalamnya adalah peningkatan kesejahteraan pada umumnya. Peningkatan produksi pertanian menjadi faktor yang ada di dalamnya dan hasil yang mengikutinya.



• Kontribusi pasar
Indonesia seperti Negara agraris sangat merupakan peranan penting bagi pasar domestik produk-produk dari sector non pertanian seperti industry dan manufaktur.Pengeluaran petani untuk produk-produk industry baik barang consumer maupun barang perantara untuk kegiatan produksi memperlihatkan aspek kontribusi pasar dari sector pertanian terhadap pembangunan ekonomi lewat efeknya terhadap pertumbuhan.kontribusi pasar ini sangat tergantung pada dua factor yaitu :
 Dampak dari keterbukaan ekonomi dimana pasar domestic tidak hanya diisi dengan barang-barang dalam negeri tetapi juga diisi dengan barang-barang impor.
Di system ekonomi tertutup kebutuhan petani akan barang-barang nonmakan harus dipenuhi oleh industry dalam negeri.Jadi tidak ada campur tangan dari factor-faktor pendukung barang-barang luar negeri.
 Jenis teknologi yang digunakan pertanian menentukan tinggi rendahnya tingkat mekanisme di sector tersebut.Permintaan terhadap barang-barang produsen buatan indistri tradisional lebih kecil dibandingkan permintaan dari sector pertanian yang sudah modern.Jadi komposisi baik dalam jumlah maupun jenis barang industry buatan tradisional jarang yang berminat.Padahal buatan tradisional ini lah yang sangat alami walaupun banyak factor kekurangannya dibandingkan yang modern.

• Kontribusi faktor-faktor produksi
Selama periode sepuluh tahun terakhir kontribusi pertanian terhadap pendapatan nasional atau PDB Indonesia mengalami penurunan dari sekitar 50% pada tahun 60-an menjadi 20,2% pada tahun 1997. Pada tahun 1998 kontribusi sector pertanian terhadap pendapatan PDB secara absolute masih menurun, walaupun sector pertanian merupakan satu-satunya sector ekonomi yang mengalami pertumbuhan (0,26%), diantara perpaduan seluruh sector ekonomi yang mencapai minus 14%.
Sebelum krisis ekonomi berlangsung, pertumbuhan sector pertanian secara umum juga tidak secerah sector-sektor perekonomian lainnya, yaitu tidak lebih dari 3% pertahun selama pelita V khususnya, sangat jauh jika dibandingkan dengan sector industri yang mengalami pertumbuhan sampai 2 digit. Pada tahun 1996, pertumbuhan sector pertanian juga masih berkisar 3% pertahun, sedangkan pada tahun 1997 sektor pertanian juga masih belum mengalami lonjakan pertumbuhan yang berarti atau tumbuh tidak sampai mencapai 3% (Arifin, 2001).
Teori ekonomi pembangunan modern umumnya sepakat bahwa semakin berkembang suatu Negara, maka akan semakin kecil kontribusi sector pertanian atau sector tradisional dalam PDB. Jika pendapatan meningkat, maka proporsi pengeluaran terhadap bahan makanan akan semakin menurun. Dalam istilah ekonomi, elastisitas permintaan terhadap makanan semakin kecil dari satu atau tidak elastis (inelastic). Karena fungsi sector pertanian yang paling penting dalah untuk menyediakan bahan-bahan makanan, maka peningkatan terhadap bahan makanan tidaklah sebesar permintaan terhadap barang-barang hasil industri dan jasa. Dengan sendirinya kontribusi sector pertanian terhadap PDB akan semakin kecil dengan semakin besarnya tingkat pendapatan pada sector non-pertanian. Secara sederhana dapat dituliskan dalam bentuk persamaan:


Keterangan:
P = Net produk nasional
Pa = Net produk Pertanian
Pna = Net produk non-pertanian



Sebagai upaya untuk meningkatkan kontribusi sector pertanian dalam PDB khususnya dan gairah perekonomian pada umumnya, pemerintah harus mampu menciptakan integrasi kebijakan industrialisasi nasional yang berbasis pada pertanian. Kebijakan yang lebih memilih berpihak pada sector industri dengan mengabaikan integrasi antara industri dan pertanian harus diubah. Pengambil kebijakan selama ini menganggap bahwa pembangunan adalah identik dengan pertumbuhan ekonomi sehingga kebijakan yang diambil juga, menurut Lypton dalam Momose (2001), adalah bias perkotaan yang dicirikan: 1) mempriorotaskan industri daripada pertanian, 2) pengalokasian sumberdaya yang lebih besar ke masyarakat kota daripada masyarakat desa, 3) memprioritaskan industri daripada pertanian.
Sebagai Negara agraris seharusnya sector pertanian diprioritaskan lebih dulu, jika industrialisasi akan dilakukan. Keberhasilan sector industri tergantung dari suatu pembangunan pertanian yang dapat menjadi landasan pertumbuhan ekonomi. Menurut rahardjo (1990) ada dua alasan mengapa sector pertanian harus dibangun terlebih dahulu:

 barang-barang hasil industri memerlukan dukungan daya beli masyarakat petani yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia, maka pendapatan mereka perlu ditingkatkan melalui pembangunan pertanian.
 Industri juga membutuhkan bahan mentah yang berasal dari sector pertanian dan karena itu produksi hasil pertanian menjadi basis bagi pertumbuhan industri itu sendiri.

Alasan kedua diatas dapat memberikan petunjuk bahwa industri yang cocok untuk Negara agraris adalah industri yang berbasis pada pertanian atau agroindustri. Masing-masing industri harus mempunyai keterkaitan antara hulu sampai ke hilir.



Kenyataan sekarang ini dari ketiga subsistem yang ada – hulu (penyedia sarana produksi, onfarm/ (usahatani), dan hilir (pengolah hasil)- dalam semua subsektor komoditi berjalan tersekat-sekat. Maing-masing berjalan sendiri-sendiri dan memikirkan keuntungan sendiri. Sebagai pihak yang lemah petani sering menjadi objek eksploitasi dari subsistem hulu dan hilir.
Contoh kasus, produk pertanian sering ditolak atau dihargai murah oleh industry pengolahan hasil pertanian dengan alas an kandungan pestisida yang tinggi atau lasan lain semisal tidak terpenuhinya kualitas. Pada kasus pestisida sebenarnya sector hulu juga berperan dalam mendorong petani menggunakan pestisida, bagaimana mereka mempromosikan produksnya untuk digunakan dalam pemberantasan hama penyakit tanaman.

• Kontribusi devisa
Kontribusi peningkatan devisa suatu negara melalui peningkatan ekspor atau pengurangan tingkat ketergantungan Negara terhadap impor atas komoditi-komoditi pertanian.Kontribusi ekspor pertanian juga tidak bersifat langsung melalui ekspor pengurangan impor bahan makanan minuman dan yang lainnya untuk dikonsumsi.kontribusi devisa ini juga berkaitan dengan kontribusi produk yaitu kontribusi produk domestic tidak besar karena sebagian besar produk pertanian diekspor atau sebagian besar kebutuhan pasar dan industry dalam negeri dikuasai oleh produk-produk impor.Dengan begitu peningkatan ekspor pertanian dapat berakibat buruk terhadap pasokan pasar dalam negeri dan dapat menjadi faktor penghambat pertumbuhan ekspor pertanian.



• Pertumbuhan output sejak tahun 1970
Pangsa output agregat (PDB) dari pertanian relative menurun sedangkan dari industry manufaktur dan sector lainnya meningkat.Perubahan stuktur ekonomi seperti ini juga terjadi di Indonesia selama periode 1990 pangsa PDB dari pertanian mengalami penurunan dari sekitar 17,9% tahun 1993 menjadi 16,4% sedangkan pangsa PDB dari industry manufaktur selama kurun waktu yang sama meningkat dari 22,3% menjadi 26,0%.Penurunan kontribusi output bukan berarti volume produksi berkurang tetapi laju outputnya lebih lambat disbanding laju pertumbuhan di sector-sektor lainnya.



• Pertumbuhan dan diversifikasi ekspor
Komoditas pertanian Indonesia yang diekspor cukup bervariasi mulai dari karet,kopi,udang,rempah-rempah hingga berbagai macam sayur dan buah.
Diantar komoditi tersebut yang paling besar nilainya adalah udang dengan rata-rata sedikit diatas 1 miliar dolar ASselama periode yang sama .Udang memeng merupakan komditas terpenting dalam ekspor hasil perikanan Indonesia.Selain itu, Indonesia juga mengekspor hasil perikanan bukan bahan makanan.Peran pertanian dalam pertumbyhan ekspor nasional, khususnya nonmigas sangat kecil. Tetapi sector ini mempunyai peran besar secara tidak langsung,melalui ekspor dari industry manufaktur Indonesia didominasi oleh produk-produk berbasis pertanian.Semakin tinggi tingkat pembangunan ekonomi yang terefleksi dengan semakin tingginya pendapatan perkapita semakin penting peranan secara tidak langsung dari sector pertanian.

 Kontribusi terhadap kesempatan kerja
Pembangunan pertanian dalam kerangka pembangunan ekonomi nasional berarti menjadikan perekonomian daerah sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Sebagai agregasi dari ekonomi daerah, perekonomian nasional yang tangguh hanya mungkin diwujudkan melalui perekonomian yang kokoh. Rapuhnya perekonomian nasional selama ini disatu sisi dan tingginya disparitas ekonomi antar daerah dan golongan disisi lain mencerminkan bahwa perekonomian nasional Indonesia dimasa lalu tidak berakar kuat pada ekonomi daerah.
Pembangunan ekonomi lokal yang berbasis pada pertanian merupakan sebuah proses orientasi, yang meletakkan formasi institusi baru, pengembangan industri alternatif, peningkatan kapasitas pelaku untuk menghasilkan produk yang lebih baik, identifikasi pasar baru, transfer ilmu pengetahuan, dan menstimulasi bangkitnya perusahaan baru serta semangat kewirausahaan.
Diharapkan dalam pembangunan ekonomi lokal, kegiatan pertanian dalam perkembangannya akan berorientasi pada pasar (konsumen) apabila terjadi penyebaran sumberdaya dan faktor produksi yang merata serta adanya biaya transportasi yang relatif murah. Orientasi pasar ini akan menunjukkan bahwa setiap lokasi dapat menghasilkan komoditi pertanian tertentu. Suatu kegiatan pertanian akan lebih dapat berkembang pada lokasi tertentu yang disebabkan oleh adanya kemudahaan bagi konsumen yang berasal dari dalam atau dari luar lokasi untuk datang ke lokasi pemasaran komoditi pertanian tersebut.

 Ketahanan pangan
Sektor pertanian pangan merupakan sektor strategis dilihat dari berbagai aspek antara lain :
 sektor pertanian pangan merupakan sektor integral untuk mengurangi kemiskinan. Dimensi peran ini dapat dilihat dalam beberapa hal, yang pertama, kontribusi subsektor pertanian pangan dalam kemiskinan di Indonesia. Tidak kurang dari 60% orang miskin di Indonesia bergantung pada sektor pertanian pangan. Upaya untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian pangan akan mempunyai dampak yang signifikan terhadap penurunan kemiskinan di Indonesia. Pentingnya ekspansi sektor pertanian pangan terhadap penurunan kemiskinan hanya akan terjadi jika tiga hal berikut ini berlaku, yaitu : Sektor pangan menjadi sumber pendapatan bagi penduduk miskin pedesaan, cuaca dan kesuburan tanah memungkinkan potensi untuk peningkatan dan pertumbuhan produktivitas dan peningkatan keuntungan, serta distribusi tanah relatif merata. Dimensi kedua adalah kebutuhan untuk mengurangi jumlah rumah tangga yang bergantung pada sektor pangan untuk meningkatkan produktivitas pertanian pangan per tenaga kerja. Dilihat dari penyerapan tenaga kerja, sektor ini lebih dominan.
 sektor pertanian adalah perannya yang integral dalam mencegah kelaparan dan kekurangan gizi. Sektor pertanian pangan dapat meningkatkan status ketahanan pangan dari berbagai cara, terutama dengan meningkatkan produksi pangan dan sekaligus memperluas opsi untuk keluarga Indonesia (terutama keluarga miskin) untuk memperoleh akses terhadap pangan.

 peran sektor pertanian pangan terhadap lingkungan hidup. Pilihan-pilihan dalam mengembangkan sektor pertanian (khususnya pangan) akan menentukan pengaruh ekstensifikasi sektor pertanian terhadap lingkungan hidup menjadi positif atau negatif. Perubahan arah pengembangan sektor pertanian pangan memegang peran sentral dalam menentukan kontribusi ini kepada keadaan lingkungan hidup Indonesia di masa depan.

 sektor pangan Indonesia dilihat dalam konteks posisi keseimbangan neraca perdagangan Indonesia. Defisit produksi pangan menyebabkan devisa yang harus dikeluarkan untuk mengimpor pangan cukup besar dan cenderung meningkat. Pengembangan sektor pangan diharapkan bukan hanya mengurangi impor tetapi mengembalikan status Indonesia menjadi salah satu pengekspor pangan.

 pangan selalu menjadi isu ekonomi dan politik yang penting bukan hanya pada tingkat nasional tetapi juga internasional. Kegagalan putaran Doha untuk mendorong tercapainya kesepakatan internasional dalam perdagangan global berakar dari kompleksitas masalah dalam sektor pertanian khususnya baik di negara berkembang maupun negara maju.

 kebutuhan panagn nasional
Sektor pertanian pangan adalah bagian dari subsektor pertanian yang ada di Indonesia yang memilik fungsi primer sebagai pemenuhan pokok masyarakat sehingga pangan sangat bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Ironisnya negeri yang seharusnya berjaya dan berkuasa untuk sektor pertaniannya saat ini disibukkan oleh berbagai permasalahan pertanian terutama pada bidang pangan. Bahkan Indonesia termasuk kedalam 36 negara yang dikategorikan oleh FAO termasuk ke dalam negara krisis pangan. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya hal tersebut disinyalir adalah faktor cuaca dan bencana, selain itu faktor konversi lahan dari lahan pertanian pangan menjadi permukimanan juga turut berkontribusi besar terhadap permasalahan pangan dalam negeri.
Pangan akan identik dengan kesejahteraan dan kemiskinan dalam masyarakat. Masyarakat akan sangat sejahtera dan terbebas dari jera kemiskinan ketika kebutuhan pokok masyarakat tersebut terpenuhi. Akan terapi ketika terjadi permasalah pangan dalam negeri, maka masyarakat akan merasakan efek secara langsung. Hal ini disebabkan hampir 2/3 konsumsi masyarakat Indonesia dialokasikan untuk konsumsi pangan.
Permasalahan yang paling mencuat saat ini adalah melonjaknya harga pangan nasional. Akhir-akhir ini harga pangan dalam negeri melonjak tajam dan secara nominal, Indeks Harga Pangan FAO melampaui angka tertinggi pada krisis pangan Juni 2008 di level 213,5.
Permasalahn pangan ini tentunya akan memberikan pengaruh besar terhadap suatu negara dan memberikan multiplier efek terhadap semua bidang mulai dari ekonomi, bisnis, pertahanan dan keamanan, kesejahteraan dan lain-lain. Seperti kita ketahui bahwa terjadinya kerusuhan di Aljalzair akhir-akhir ini disebabkan oleh kenaikan harga pangan, kasus meninggalnya satu keluarga akibat keracunan pangan, dan sedikit menengok sejarah bangsa ini yaitu tritura yang salah satu isi dari tritura tersebut adalah turunkan harga dan perbaiki sandang dan pangan yang berpengaruh besar terhadap kestabilan politik dan keamanan dalam negeri saat itu.
Tentu masalah pangan menjadi masalah yang serius bagi negeri yang seharusnya tidak diderita oleh negeri ini. Masalah pangan menyangkut masalah kepentingn orang banyak sehingga perlunya penanganan-penanganan yang konket yang dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia dan pemerintah untuk mengembalikan stabilitas pangan dalam negeri. Beberapa solusi yang dapat dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi lonjakan pangan dalam negeri.
a. menahan laju pertumbuhan penduduk agar jumlah penduduk di Indonesia dapat terkontrol sehingga dapat menurunkan angka impor produk pangan Indonesia.
b. mengembangkan teknologi pertanian untuk menambah produktifitas tanaman pangan.
c. melakukan pengurangan pada sektor-sektor lainnya dan menambah luas sektor pertanian terutama sektor pertanian pangan agar sektor ini dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional.
d. mengembangkan sektor-sektor lain baik pengolahan industry pangan untuk dapat berinovasi dalam pangan.
e. perlunya kontrol dari pemerintah dan pihak berwenang karena ada oknum-oknum yang memanfaatkan dan mencari keuntungan dari kenaikan harga pangan dan perlunya tindakan dan sanksi yang tegas dari pihak terkait. Keenam, perlunya perhatian lebih pemerintah terhadap kesejahteraan petani-petani di Indonesia dan pendanaan atau peminjaman dana yang lebih mudah untuk sektor pertanian sehingga petani dapat dengan mudah megembangkan usaha agribisnis. Ketujuh, perlunya organisasi petani yang memiliki manajemen organisasi yang baik sehingga petani saat ini tidak mengembangkan usahnya secara individu, tetapi secara kolektif.

 Nilai tukar petani
Nilai tukar adalah nilai tukar suatu barang dengan barang lain jadi suatu rasio harga dari dua barang yang berbeda.Didalam perdagangan internasional pertukran dua barang yang berbeda di pasar dalam negeri dalam nilai mata uang nasional disebut dasr tukar dalam negeri sedangkan di pasr internasional dalam nilai mata uang internasional disebut dasar tukar intenasional.
Nilai tukar petani (NTP) adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani yaitu indeks harga jual outputnya terhadap indeks harga yang dibayar petani.Input yang digunakan petani seperti pupuk.Jadi NTP hanya membedakan antara harga input dan output pertanian.
 Semakin baik profit yang diterima petani semakin baik posisi pendapatan petani.
 Perkembangan NTP di Indonesia
semakin tinggi nilai NTP semakin sejahtera tingkat kehidupan petani. Dan pada Januari 2011 ini NTP Babel mengalami peningkatan dibandingkan Desember 2010, selama Januari – Desember 2010 kemarin dilihat dari grafik perkembangan NTP memang mengalami kenaikan, garis grafiknya naik terus hingga ke Januari 2011, mudah-mudahan petani Bangka Belitung semakin sejahtera,” tukasnya seraya menunjukkan grafik perkembangan NTP Babel di layar televisi milik BPS yang digunakan sebagai media BRS.
tingkat kesejahteraan petani yang bisa dikatakan sejahtera adalah ketika angka NTP melewati angka 100, jika masih berada di bawah 100 masih belum sejahtera. Dan untuk di Babel, jika dilihat per subsektor, hanya subsektor tanaman perkebunan rakyat yang sudah melampaui angka 100, yakni mencapai 109,17 persen, sedanghkan subsektor lainnya belum mencapai angka standar kesejahteraan.
“Petani yang bergerak di subsektor tanaman perkebunan rakyat ini kelihatannya sudah sejahtera jika dibandingkan subsektor lainnya, angkanya mencapai 109,17 angka ini juga mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Desember 2010 kemarin, ada kenaikan 0,85 persen, ini disebabkan karena kenaikan indeks yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan indeks yang dibayar petani, pemicu utama naiknya indeks yang diterima petani (IT) ini adalah naiknya indeks pada komoditi karet, kelapa belum dikupas dan lada yang saat ini mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, sehingga lebih menguntungkan petani,” jelasnya.
Lebih lanjut dikatakan Yomin, untuk subsektor padi dan palawija tercatat sebesar 84,77 masih jauh dari angka standar kesejahteraan, Subsektor Holtikultura sebesar 94,81, Subsektir Peternakan 94,97, dan Subsektor Perikanan sebesar 89,77.
“Jika dibandingkan antar Provinsi se-Sumbagsel (Sumatera Bagian Selatan), dari 5 Provinsi yang dihitung NTP nya, empat Provinsi mengalami kenaikan NTP dan satu provinsi mengalami penurunan, secara umum 3 Provinsi sudah mencapai standar kesejahteraan petani, diantaranya Provinsi Bengkulu tercatat sebesar 104,01, Provinsi Sumatera Selatan mencapai 108,17 dan Provinsi Lampung mencapai 118,10 merupakan provinsi yang paling sejahtera NTP nya dibandingkan empat Provinsi lainnya di Sumbangsel. Sementara itu, Provinsi Jambi masih berada di bawah Bangka Belitung dengan NTP 96,89,” pungkasnya.
Pada bulan yang sama di pedesaan, perubahan indeks konsumsi rumah tangga (KRT) mencerminkan angka inflasi sebesar 1,61 persen. Sama halnya denga di kota Pangkalpinang, inflasi ini disebabkan karena adanya kenaikan indeks kelompok bahan makanan sebesar 2,35 persen, kelompok makanan jadi naik 2,00 persen, sandang naik 1 persen, kesehatan naik 0,12 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga baik 0,06 persen, kelompok transportasi dan komunikasi naik 0,54 persen, sedangkan kelompok perumahan turun sebesar 0,22 persen.

 Penyebab lemahnya NTP
Keterpurukan pertanian rakyat di Indonesia disebabkan karena pertanian rakyat dikuasai oleh petani kecil dengan produk pertanian dan mutu yang bervariasi. Unit-unit kegiatan skala kecil tersebut membawa konsekuensi dalam kegiatan, luas lahan, produksi yang dihasilkan, keragaman jenis kegiatan dan sebagai¬nya yang memberikan kontribusi terhadap pendapatan nasional. Kondisi ini juga dapat dilihat dalam subsistem pengolahan hasil dan subsistem pemasaran hasil. Kegiatan pertanian yang dilakukan oleh petani-petani kecil ini merupakan wajah pertanian Indonesia sampai saat ini.
Kondisi tersebut terjadi karena pertanian rakyat dibatasi oleh keterbatasan dalam permodalan, penguasaan lahan, keterampilan, teknologi, pengetahuan dan aksesibiltas pasar, bargaining position dan sebagainya. Semuanya akan mempengaruhi pengambilan keputusan dalam penentuan komoditas yang akan diusahakan yang pada akhirnya bermuara pada rendahnya tingkat pendapatan dan kesejahteraannya. Ketergantungan terhadap iklim dan pendekatan pemilihan komoditas pertanian yang bersifat historis menjadi penyebab ketidaksinambungan antara ketersediaan komoditi maupun mutu produk. Keadaan ini mempengaruhi fluktuasi harga dan ketersediaan produk pertanian di pasar.
Kondisi demikian sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kim (1986) bahwa pola perkembangan pemasaran komoditi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tumbuhnya komersialisasi pada produksi, adanya pengadopsian teknologi, berkembangnya spesialisasi tenaga kerja dalam usahatani, terpisahnya secara geografis antara produksi dan konsumsi, berkembangnya populasi dan urbanisasi, adanya perubahan kebiasaan makan dan daya beli, adanya perubahan mobilitas konsumen serta kondisi peranan pemerintah. Berkaitan dengan itu, komoditi pertanian di Indonesia juga mengalami pola perubahan sesuai dengan dinamika dan pertumbuhan ekonomi yang ada, baik pada produksi, konsumsi dan pemasaran atau perdagangan.

 Keterkaitan produksi antar sektor pertanian dengan sektor lainnya
sektor pertanian telah menjadi faktor utama yang mendorong ekspansi industri-industri hulu di sektor manufaktur seperti industri pupuk, kimia dan lain-lain dan juga sebagai utama yang mendorong ekspansi industri- industri hilir seperti industri-industri yang memproses bahan makanan. Sektor pertanian yang dinamis adalah juga merupakan pendorong utama bagi kegiatan perdagangan dan jasa-jasa. Keterkaitan sektor manufaktur dengan sektor pertanian yang telah didinamisasi secara luar biasa merupakan kunci pertumbuhan sektor manufaktur. Sebagai sektor inti berikutnya, sektor manufaktur ini menurut pandangan baru Berkeley ini hendaklah dikembangkan menurut model pengembangan sektor pertanian yaitu model yang didasarkan atas kesalingkaitan domestik. Dalam hal ini, Cohen dan Zysman mengemukakan: Rather than shifting up and out of manufacturing by moving production 'off shore' and resorting to importing, manufacturing activities should be kept on home soil. Menurut pandangan baru dari Berkeley ini mengenai teori transformasi struktural, sektor jasa- jasa bukanlah merupakan sektor inti dan oleh sebab itu tidak dianggap sebagai sektor yang mendinamisasi ekonomi. Sektor ini hanya merupakan sektor pendukung dan peranan ekonomis sektor ini tergantung kepada apakah sektor ini punya kaitan yang kokoh atau tidak dengan sektor-sektor inti yaitu sektor-sektor yang memproduksi barang nyata (material production).
Lebih lanjut pandangan ini mengemukakan bahwa apabila sektor-sektor ini mengalami kemunduran, maka sektor-sektor pendukungnya juga akan mengalami kemunduran. Ini terutama berlaku dalam situasi di mana terdapat ketergantungan spatial di antara kegiatan-kegiatan produksi dalam sektor- sektor inti ini. Agar supaya sektor-sektor inti tidak mengalami kemunduran kapasitas, maka perlu dikembangkan dalam sektor-sektor inti yaitu apa yang disebut learning curve economies. Ini hanya dapat diraih apabila pengembangan produk dan modifikasi-modifikasi dalam peralatan produksi secara terus-menerus berlangsung. Ini bermakna bahwa tanpa dinamika produksi ini, pergeseran yang masif tenaga kerja ke sektor jasa-jasa akan menimbulkan erosi terhadap proses akumulasi modal baik yang berbentuk human capital, technical capital maupun social output. Kalau tidak ada proses yang mencegah terjadinya pergeseran ini, maka struktur ekonomi akan terjadi overconcentration dalam sektor jasa-jasa dan menurunya produktivitas sektor- sektor initi. Juga akan timbul situasi di mana kegiatan sektor keuangan akan semakin tidak punya hubungan dengan produksi barang. Sukses ekonomi hanya bersifat semu dan tidak riil. Akar-akar ekonomi menjadi kropos dan rusak.








3. Kesimpulan
Jadi sector pertanian Indonesia belum dapat dikatakan stabil dan sejahterah.Kita tahu bahwa Indonesia tergolong Negara berkembang dan mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah terutama disektor pertanian.Penduduk yang tinggal dekat dengan gunung atau di daerah pedesaan yang sangat menghasilkan produk pangan yang baik dan melimpah seharusnya dapat memanfaatkan sumber daya alam tersebut untuk dapat menghasilkan suatu devisa untuk Negara tetapi kenyataan yang ada dengan system perekonomian terbuka produk dalam negeri masih sangat kurang diminati karena kualitas dari produk itu sendiri.Sedangkan produk dari luar negeri malah banyak diminati karena kulitas produk mereka lebih bagus,mereka menggunakan teknologi yang canggih dan sumber daya manusia yang sudah termpil serta professional dibidangnya.Indonesia seharusnya dapat meniru sisi positif ini dan mempelajari bagaiman suatu produk dalam negeri banyak diminati seperti sayuran yang berada di daerah pedesaan butlah sayur mayor tersebut tanpa memakai obat biarkanlah sayur mayor tersebut alami sehingga menhasilkan sayur yang berkualitas tinggi seperti sayuran organic tanpa pestisida.Lalu di pasarkan sesuai strategi yang sudah disusun.










Daftar Pustaka :
 http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/kolom/Transformasi.html
 http://pustaka.uns.ac.id/include/inc_print.php?nid=22
 http://indoagribisnis.wordpress.com/2008/09/21/pentingnya-pembangunan-pertanian
 http://www.mediaindonesia.com/citizen_read/1284
 Perekonomian Indonesia Dr.Tulus T.H.Tambunan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar