Laman

Rabu, 30 Oktober 2013

Tugas Kelompok Softskill



TUGAS KELOMPOK SOFTSKILL KELAS 4EB10 MINGGU 1
Anggota:
Dila Noviyanti               (22210015)
Ericha Dian N                (22210387) 
Dewi Kencanawati         (21210903)
Ferizah Arina M            (22210742)
Yuliana Eka Putri           (28210752)


1. Untuk mahasiswa etika apa saja yang dilanggar ? akibat dan konsekuensinya apa ?
Jawab:
a.) Tidak mendengarkan dosen yang sedang menerangkan
- Akibatnya : Mahasiswa jadi kurang paham dan tidak mengerti tentang apa yang dibahas dalam mata kuliah tersebut.
- Konsekuensinya : Mahasiswa harus belajar kepada teman yang telah memahami materi yang diterangkan.
b.) Melakukan demo yang anarkis
- Akibatnya : Banyak berjatuhan korban, nama baik kampus tercemar, meresahkan masyarakat, serta merusak fasilitas.
- Konsekuensinya : Mahasiswa harus terima jika dipanggil bahkan dikeluarkan dari kampus secara paksa.
c.) Mencontek saat ujian
-  Akibatnya : ketahuan oleh dosen pengawas.
- Konsekuensinya :  Mahasiswa harus siap mendapat nilai E, dan namanya akan dimasukan kedalam berita acara perkuliahan.

2. Etika yang ada pada daerah suatu daerah. Disini akan dijelaskan etika yang ada di daerah Jawa, Bali dan Sunda.
* Pada daerah Jawa :
a.  Sikap Batin yang Tepat
Dalam masyarakat Jawa terdapat sebuah ajaran moral yang oleh Magnis disebut sebagai “sikap batin yang tepat” yakni sebuah pendirian batin untuk selalu mengendalikan hawa nafsu dan egoisme (pamrih: mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum).


b.  Tindakan yang Tepat dalam Dunia
Dari konsep mengenai “sikap batin yang tepat” muncullah sebuah pandangan dalam masyarakat Jawa bahwa manusia jangan mengikat diri pada dunia akan tetapi membebaskan diri dari dunia, namun demikian bukan berarti menarik diri dari dunia. Dari satu pemahaman tersebut kemudian sampailah pada suatu ungkapan “rame ing gawe, sepi ing pamrih dan memayu hayuning bawana”. Yang dimaksud rame ing gawe yakni kewajiban untuk bekerja keras, sementara sepi ing pamrih berarti jauh dari sifat-sifat egois. Bila kedua ungkapan tersebut digabung melahirkan sebuah pengertian bahwa orang Jawa hendaknya selalu bekerja keras namun juga harus mengindari pamrih (imbalan). Kemudian memayu hayuning bawana ialah memperindah kehidupan dunia dalam keselarasan kosmos.
c. Pengertian yang Tepat
Pandangan Jawa mengenai sikap batin dan tidakan yang tepat didasari atas pemahaman tentang tempat yang tepat. Barang siapa yang memahami tempatnya dalam masyarakat, ia juga memiliki sikap batin yang tepat dan dengan demikian akan bertindak tepat.

*Pada daerah Bali :
a.   Dalam perkawinan adat Bali, dipengaruhi oleh dadia atau klen dan kasta. Perkawinan yang ideal bila mana pemuda dan gadis dari satu dadia atau setidaknya mempunyai kasta yang sama. Sebaiknya anak gadianya tidak menikahi pemuda yang kastanya lebih rendah bila ini terjadi akan mepermalukan keluarga.
Dan dalam adat perkawinan bali ada pantangan yang tidak boleh di langgar yaitu saudara perempuan seorang suami tidak boleh kawin dengan saudara laki-laki istri bola dilanggar akan mendatangkan bencana. Dan perkawinan yang di pantang pula adalah bibi atau paman yang menikah dengan keponakan, saudara kandung atau tiri.
b.  Pada saat hari nyepi dilarang keluar rumah, hotel atau penginapan . Dilarang menyalakan lampu         di malam hari dan api.
c.   Larangan Saat Berkunjung ke Pura
-     Wanita yang sedang menstruasi atau habis melahirkan dilarang masuk ke lingkungan Pura.
-     Dilarang mengenakan celana pendek. Bagi yang mengenakan celana pendek bisa memakai sarung   yang biasanya disediakan di luar Pura.
-     Jangan berjalan di depan orang yang sedang sembahyang atau melakukan ritual agama.
-     Jangan memotret orang yang sedang bersembahyang atau pendeta yang memimpin doa dengan menggunakan flash (cahaya kilat).


d.  Etika dan Kesopanan di Bali
-     Hindari menyentuh lawan bicara saat sedang berinteraksi.
-     Jangan buang air di sembarang tempat. Beberapa pohon di Bali dianggap sakral, biasanya ditandai dengan ikatan kain dan sesajen, dan dipercaya sebagai tempat tinggal dari makhluk dunia lain.
-     Jangan mengejek arca (patung), topeng, atau benda adat dan kesenian Bali.
-     Hormati penduduk lokal dengan berperilaku sopan dan santun.
Itulah berbagai pantangan, larangan, dan etika kesopanan saat berwisata ke Bali

*Pada daerah Sunda :
a. Jika lewat di depan rumah seseorang, dan kebetulan orangnya ada di beranda rumah atau kelihatan, seseorang yang lewat harus mengucapkan “punten/permisi”.
b. Jika lewat di depan orang yang jauh lebih tua dan jaraknya dekat, misalnya dalam suatu pertemuan atau riungan, maka diharuskan untuk membungkukan badan dengan tangan kanan lebih rendah daripada tangan kiri seolah-olah tangan kanan sedang memungut sesuatu sambil mengucapkan “punten/permisi”.
c.   Ketika makan, tidak boleh ada suara dari mulut ketika mengunyah.
d. Tidak kentut di depan orang yang lebih tua atau di depan orang, apalagi seorang gadis/wanita, sangat dipantang.
e. Diharamkan memanggil yang lebih tua dengan namanya!!
f.   Jika orang tua sedang berkumpul apalagi kedatangan tamu, anak kecil tidak boleh nimbrung
j. Kalau berbicara dengan orang tua, tidak boleh memandang mata dan usahakan untuk mendengarkan dulu.

Sumber :


1. What kind of ethics which are usually violated by students? And what are the consequences?
Answer:
a.) Ignoring the lecturer’s lessons in class
- Effects: Students could have some difficulties on understanding the courses.
- Consequences: Students have to ask to their friends who are able to re-explain the courses.
b.) Perform the anarchist demonstration
- Effects: could cause the casualties, could taint the reputation of university, generate social unrest, and ruin the general facilities.
- Consequences: Students should take the responsibilities when they are summoned by the police, they also could be expelled from campus.
c.) Cheating during exams
- Effect: get caught by the supervisor.
- Consequences: Students could get the worst mark and his name will be written into lecture official reports.

2. Ethics that exist in some regions. In this case ethics in Java, Bali and Sunda.
* In the region of Java:
a. Right Mental Attitude
In the Javanese society there is a moral teaching that is referred to as "the right mental attitude" by Magnis, a mental standpoint to always control the passions and egoism. (In Javanese language, pamrih : prioritizing personal interests above the public interest) .
b . Right Actions in the Daily Activities
From the concept of "the right mental attitude" comes a sight of the Javanese society that humans do not bind itself to the world but to free themselves from the world, however, it does not mean that they should withdraw themself from the world. Those concept will lead to an expression
rame ing gawe, sepi ing pamrih dan memayu hayuning bawana”. The meaning of rame ing gawe is obligation to work hard, while sepi ing pamrih means avoid the selfish traits. If both expressions are combined, they will generate a sense that the Javanese should always work hard but also have to avoid the greediness to get a reward. The last sentence, memayu hayuning bawana means that beautify the world in harmony of the cosmos.
c . The Right Understanding
Javanese sight of the inner attitude and appropriate actions based on the understanding of the right places. Those who understands his place in society, would also has the right mental attitude and therefore will act appropriately.


* In the region of ​​Bali:
a. Balinese traditional marriage is influenced by dadia or clan and caste. The ideal marriage happens when where bride and groom are from the same dadia or at least have the same caste.The girls should not marry a lower caste boy since it will embarrass the family.
In balinese traditional wedding there are some restrictions that can not be violated. The sisters of the grooms can not marry with the brothers of his wife because the violation of this law could bring disaster. Another restrictions are the marriage of an aunt or uncle with their nephew and a marriage among siblings or step brothers and sisters.
b . During Nyepi day people are prohibited to go outside of the house, hotel or inn. They also pprohibited to turn on the lights and fire at night.
c . Prohibition when visiting Pura
-  Women who are menstruating or who had just gave a birth are forbidden to enter the temple environment.
- Women are prohibited to wear shorts. For those who wear shorts they heve to cover their legs with sarung cloth which are usually provided outside the temple.
- Do not walk in front of people who are praying or performing religious rituals.
- Do not take pictures of people who are praying or monk who leads prayers by using the flash light.
d. Ethics and Politeness in Bali
- Avoid touching the other person when you're interacting.
- Do not waste water in any place. Some trees are considered sacred in Bali, usually marked with fabric ties and offerings, and it is believed to be the residence of the other-worldly beings.
- Do not mock statue (sculpture), mask, or custom objects and Balinese art.
- Respect local residents by behaveing politely.
That are the various restrictions, prohibitions, and manners when traveling to Bali

* In the region of ​​Sunda:
a. When we pass in front of someone's house and see the house owner coincidently, we are obliged say " Punten / permisi (excuse me)".
b . When we pass in front of people who are much older and in short distance with him/her, for example, in a meeting or room, it is required to bow and set our  right hand lower than the left hand as if it pick up something while saying " Punten/ permisi (excuse me)" .
c . When we eat, there should be no sound from the mouth when chewing.
d . Do not fart in front of people who are older or in front of people, especially for a girl/woman, It is highly prohibited.
e . It is prohibited to call older people with his name.
f .  When parents are gathering with their guests, children should not join the conversation.
j .  When talking with parents, avoid eye contact and try to listen first.
Sources:
http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/22/adab-sopan-santun-zaman-dulu-khususnya-adat-sunda-336775.html
http://nguts.wordpress.com/2010/12/16/etika-jawa/
http://www.voucherhotel.com/travel/pantangan-saat-berkunjung-ke-bali/




Selasa, 22 Oktober 2013

Perbedaan Etika dengan Etiket

Kita sebagai manusia dikodratkan sebagai makluk individu dan makluk sosial. Kodrat manusia sebagai makluk sosial tampak pada kebutuhannya akan orang lain dalam usaha memenuhi kebutuhan pribadi. Kita berinteraksi dengan siapa saja dan interaksi dapat berjalan dengan baik apabila ada batasan yang menjadi kesepakatan bersama dan ditaati oleh semua pihak. Aturan itu yang disebut dengan etiket, berasal dari bahasa Prancis ETIQUETTE yang artinya sopan-santun dalam pergaulan. Sedangkan Etika, berasal dari bahasa Yunani ETHOS, artinya falsafah moral dan merupakan cara hidup yang benar dilihat dari sudut budaya, susila dan agama. Etika memuat kriteria apa yang “baik” dan yang “tidak baik”, azas yang berkenaan dengan akhlak serta nilai apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak. Etiket tidak sama dengan etika, meskipun ada kaitannya karena sama-sama mengacu pada  norma atau aturan. Etika mengacu pada norma kesusilaan sedangkan etiket mengacu pada norma kesopanan. Sudahkah kita memberikan contoh yang baik dalam etika pergaulan sehari-hari? Karena kenyataannya di lingkungan kita masih banyak orang yang tepelajar, intelektual, publik figur masih sangat rendah etika dan etiketnya dalam pergaulan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari saja contohnya mahasiswa berbicara dengan dosen dengan kata-kata yang tidak sopan atau semaunya saja. Ini membuktikan bahwa etiket seorang mahasiswa masih kurang. Selanjutnya contoh lainnya yang berhubungan dengan etika dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya kita sedang berjalan dan ada orang tua yang sedang duduk seharusnya kita mengucapkan permisi dan tidak main jalan saja ini termasuk etika yang dipandang dari sudut budaya biasanya dipergunakan pada orang jawa dan daerah lainnya.
Kesimpulan:
Sebagai penerus bangsa marilah kita tingkatkan etika dan etiket kita dalam kehidupan sehari-hari biasakan untuk melakukannya, sehingga etika dan etiket kita tidak rendah dan tidak dipandang rendah oleh orang lain. Sebagai generasi muda harus mejalankan dan mempraktekannya setiap hari dan kita mengerti seharusnya gimana dan apa akibatnya jika etika dan etiket kita rendah akan menimbulkan banyak konflik.

Minggu, 13 Oktober 2013

Perilaku Etika dalam Bisnis

Etika bisnis yang mempengaruhi perilaku etika
Bisnis memiliki beberapa definisi/ pengertian. Secara umum, bisnis mempunyai pengertian sebagai suatu organisasi yang menyediakan barang dan jasa untuk mendapatkan profit atau keuntungan. Bisnis juga bisa diartikan sebagai suatu kegiatan atau usaha atau sebuah aktifitas terpadu yang meliputi pertukaran barang, jasa atau uang yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih, dengan tujuan memperoleh profit atau keuntungan atau manfaat dari kegiatan tersebut. Sehingga dapat disimpulkan juga bahwa definisi/ pengertian bisnis adalah proses sosial yang dilakukan oleh setiap individu atau kelompok melalui proses penciptaan dan pertukaran kebutuhan dan keinginan akan suatu produk tertentu yang memiliki nilai atau memperoleh manfaat dan keuntungan.
Lingkungan bisnis terdiri dari dua jenis, yaitu lingkungan internal dan lingkungan eksternal.
ð  Lingkungan Internal, terdiri dari manajemen, modal, informasi, karyawan, pemegang saham, peralatan fisik, dsb.
ð  Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal bisnis terdiri dari dua jenis, yaitu lingkungan khusus dan l     ingkungan umum :
·                Lingkungan Khusus, terdiri dari konsumen, pesaing, pemasok dan kreditor.
Lingkungan Umum, terdiri dari kondisi ekonomi, politik, dan hukum, sosial budaya,demografi,serta teknologi dan kondisi globalisasi.
Bisnis dan Sistem Ekonomi
Bisnis adalah suatu organisasi yang menyediakan barang atau jasa untuk mendapatkan profit. Di mana yang dimaksud dengan profit adalah perbedaan antara pendapatan suatu bisnis dan beban-bebannya.
Etika Bisnis
Secara harfiah, etika dapat diartikan sebagai kepercayaan tentang apa yang benar dan salah, baik atau buruk dalam tindakan yang mempengaruhi orang lain. Sedangkan perilaku etis adalah tingkah laku yang disesuaikan terhadap normal sosial yang diterima secara umum berkenaan dengan tindakan yang berguna dan berbahaya.
Terdapat 3 langkah sederhana untuk melakukan penilaian etika untuk situasi dalam aktifitas bisnis, yaitu :
a. Mengumpulkan informas yang relevan,
b. Mengalisa fakta- fakta untuk menetapkan nilai moral yang paling sesuai
c. Membuat keputusan etik berdasarkan pada kebenaran atau kesalahan dari kebijakan atau aktifitas yang dimaksud.
Tanggung jawab sosial merupakan penerimaan manajemen terhadap kewajiban untuk mempertimbangkan laba, kepuasan pelanggan dan kesejahteraan sosial sebagai nilai sepadan dalam mengevaluasi kinerja perusahaan. Sedangkan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap stakeholder, yaitu meliputi tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, investor, pemasok dan komunitas local dimana bisnis tersebut berada. Empat area tanggung jawab organisasi terdiri dari tanggung jawab ke depan terhadap lingkungannya, konsumen, karyawan dan investor.

2  Kesaling- tergantungan antara bisnis dan masyarakat
Mungkin ada sebagian masyarakat yang belum mengenali apa itu etika dalam berbisnis. Bisa jadi masyarakat beranggapan bahwa berbisnis tidak perlu menggunakan etika, karena urusan etika hanya berlaku di masyarakat yang memiliki kultur budaya yang kuat. Ataupun etika hanya menjadi wilayah pribadi seseorang. Tetapi pada kenyataannya etika tetap saja masih berlaku dan banyak diterapkan di masyarakat itu sendiri. Bagaimana dengan di lingkungan perusahaan? Perusahaan juga sebuah organisasi yang memiliki struktur yang cukup jelas dalam pengelolaannya. Ada banyak interaksi antar pribadi maupun institusi yang terlibat di dalamnya. Dengan begitu kecenderungan untuk terjadinya konflik dan terbukanya penyelewengan sangat mungkin terjadi. Baik dalam tataran manajemen ataupun personal dalam setiap team maupun hubungan perusahaan dengan lingkungan sekitar. Untuk itu etika ternyata diperlukan sebagai kontrol akan kebijakan, demi kepentingan perusahaan itu sendiri Oleh karena itu kewajiban perusahaan adalah mengejar berbagai sasaran jangka panjang yang baik bagi masyarakat.

Dua pandangan tanggung jawab sosial :
1. Pandangan klasik : tanggung jawab sosial adalah bahwa tanggung jawab sosial manajemen hanyalah memaksimalkan laba (profit oriented)
Pada pandangan ini manajer mempunyai kewajiban menjalankan bisnis sesuai dengan kepentingan terbesar pemilik saham karena kepentingan pemilik saham adalah tujuan utama perusahaan.
2. Pandangan sosial ekonomi : bahwa tanggung jawab sosial manajemen bukan sekedar menghasilkan laba, tetapi juga mencakup melindungi dan meningkatkan kesejahteraan sosial
Pada pandangan ini berpendapat bahwa perusahaan bukan intitas independent yang bertanggung jawab hanya terhadap pemegang saham, tetapi juga terhadap masyarakat.
Perilaku bisnis terhadap etika
Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain ialah :
1. Pengendalian diri
2. Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility)
3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
4. Menciptakan persaingan yang sehat
5. Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”
6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi)
7. Mampu menyatakan yang benar itu benar
8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha kebawah
9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama
10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati.

Perkembangan Etika Bisnis
Di akui bahwa sepanjang sejarah kegiatan perdagangan atau bisnis tidak pernah luput dari sorotan etika. Perhatian etika untuk bisnis dapat dikatakan seumur dengan bisnis itu sendiri. Perbuatan menipu dalam bisnis ,mengurangi timbangan atau takaran, berbohong merupakan contoh-contoh kongkrit adanya hubungan antara etika dan bisnis. Namun denikian bila menyimak etika bisnis sperti dikaji dan dipraktekan sekarang, tidak bisa disangkal bahwa terdapat fenomena baru dimana etika bisnis mendapat perhatian yang besar dan intensif sampai menjadi status sebagai bidang kajian ilmiah yang berdiri sendiri. Masa etika bisnis menjadi fenomena global pada tahun 1990-an, etika bisnis telah menjadi fenomena global dan telah bersifat nasional, internasional dan global seperti bisnis itu sendiri. Etika bisnis telah hadir di Amerika Latin , ASIA, Eropa Timur dan kawasan dunia lainnya. Di Jepang yang aktif melakukan kajian etika bisnis adalah institute of moralogy pada universitas Reitaku di Kashiwa-Shi. Di india etika bisnis dipraktekan oleh manajemen center of human values yang didirikan oleh dewan direksi dari indian institute of manajemen di Kalkutta tahun 1992. Di indonesia sendiri pada beberape perguruan tinggi terutama pada program pascasarjana telah diajarkan mata kuliah etika isnis. Selain itu bermunculan pula organisasi-organisasi yang melakukan pengkajian khusus tentang etika bisnis misalnya lembaga studi dan pengembangan etika usaha indonesia (LSPEU Indonesia) di jakarta.
          Etika Bisnis Dalam Akuntansi
Dalam menjalankan profesinya seorang akuntan di Indonesia diatur oleh suatu kode etik profesi dengan nama kode etik Ikatan Akuntan Indonesia. Kode etik Ikatan Akuntan Indonesia merupakan tatanan etika dan prinsip moral yang memberikan pedoman kepada akuntan untuk berhubungan dengan klien, sesama anggota profesi dan juga dengan masyarakat. Selain dengan kode etik akuntan juga merupakan alat atau sarana untuk klien, pemakai laporan keuangan atau masyarakat pada umumnya, tentang kualitas atau mutu jasa yang diberikannya karena melalui serangkaian pertimbangan etika sebagaimana yang diatur dalam kode etik profesi. Akuntansi sebagai profesi memiliki kewajiban untuk mengabaikan kepentingan pribadi dan mengikuti etika profesi yang telah ditetapkan. Kewajiban akuntan sebagai profesional mempunyai tiga kewajiban yaitu; kompetensi, objektif dan mengutamakan integritas. Kasus enron, xerok, merck, vivendi universal dan bebarapa kasus serupa lainnya telah membuktikan bahwa etika sangat diperlukan dalam bisnis. Tanpa etika di dalam bisnis, maka perdaganan tidak akan berfungsi dengan baik. Kita harus mengakui bahwa akuntansi adalah bisnis, dan tanggung jawab utama dari bisnis adalah memaksimalkan keuntungan atau nilai shareholder. Tetapi kalau hal ini dilakukan tanpa memperhatikan etika, maka hasilnya sangat merugikan. Banyak orang yang menjalankan bisnis tetapi tetap berpandangan bahwa, bisnis tidak memerlukan etika.



Referensi:

Sabtu, 05 Oktober 2013

Etika Sebagai Tinjauan


A.  Pendahuluan
Kode etik profesi merupakan kriteria prinsip profesional yang telah digariskan, sehingga diketahui dengan pasti kewajiban profesional anggota lama, baru, ataupun calon anggota kelompok profesi.
Kode etik profesi pada dasarnya adalah norma perilaku yang sudah dianggap benar atausudah mapan dan tentunya lebih efektif lagi apabila norma perilaku itu dirumuskan secara baik, sehingga menuaskan semua pihak. Dalam menjalankan kode etik profesi, harus ada prinsip-prinsip yang harus diberlakukan dalam menjalani profesi tersebut.

1. Pengertian Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata 'etika' yaitu ethossedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan. Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukanatau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).
K. Bertens berpendapat bahwa arti kata ‘etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut dapat lebih dipertajam dan susunan atau urutannya lebih baik dibalik, karena arti kata ke-3 lebih mendasar daripada arti kata ke-1. Sehingga arti dan susunannya menjadi seperti berikut :
1. nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Misalnya, jika orang berbicara tentang etika orang Jawa, etika agama Budha, etika Protestan dan sebagainya, maka yang dimaksudkan etika di sini bukan etika sebagai ilmu melainkan etika sebagai sistem nilai. Sistem nilai ini bisaberfungsi dalam hidup manusia perorangan maupun pada taraf sosial.

2. kumpulan asas atau nilai moral.
Yang dimaksud di sini adalah kode etik. Contoh : Kode Etik Jurnalistik

3. ilmu tentang yang baik atau buruk.
Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai `tentang yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat dan sering kali tanpa disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Etika di sini sama artinya dengan filsafat moral.


Sedangkan menurut Maryani & Ludigdo (2000) Etika adalah ilmu yang membahas perbuatan baik dan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Dalam etika, membahas tentang perbuatan baik dan perbuatan buruk dalam etika:
a. Pengertian Baik
Seusatu hal dikatakan baiik bila iya mendatangkan rahmat, dan memberikan perasaan senang, atau bahagia (sesuatu dikatakan baik bila ia dihargai secara positif).
b. Segala yang tercela
Perbuatan buruk berarti perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku.


2. Prinsip-prinsip Etika
Prinsip- prinsip perilaku professional tidak secara khusus dirumuskan oleh ikatan akuntan Indonesia tapi dianggap menjiwai kode perilaku akuntan Indonesia. Adapun prinsip- prisip etika yang merupakan landasan perilaku etika professional, menurut Arens dan Lobbecke (1996 : 81) adalah :
a. Tanggung jawab : Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai professional dan pertimbangan moral dalam semua aktifitas mereka.

b. Kepentingan Masyarakat : Akuntan harus menerima kewajiban-kewajiban melakukan tindakan yang mendahulukan kepentingan masyarakat, menghargai kepercayaan masyarakat dan menunjukkan komitmen pada professional.

c. Integritas : Untuk mempertahankan dan menperluas kepercayaan masyarakat, akuntan harus melaksanakan semua tanggung jawab professional dan integritas.

d. Objektivitas dan indepedensi : Akuntan harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari benturan kepentingan dalam melakukan tanggung jawab profesioanal. Akuntan yang berpraktek sebagai akuntan public harusbersikap independen dalam kenyataan dan penampilan padawaktu melaksanakan audit dan jasa astestasi lainnya.

e. Keseksamaan : Akuntan harus mematuhi standar teknis dan etika profesi, berusaha keras untuk terus meningkatkan kompetensi dan mutu jasa, dan melaksanakan tanggung jawab professional dengan kemampuan terbaik.


3. Basis Teori Etika

a) Etika Deontologi
Yaitu Menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik.
Tiga prinsip yang harus dipenuhi:
Supaya suatu tindakan punya nilai moral, tindakan itu harus dijalankan berdasarkan kewajiban. Nilai moral dari tindakan itu tidak tergantung pada tercapainya tujuan dari tindakan itu melainkan tergantung pada kemauan baik yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan itu-berarti kalaupun tujuannya tidak tercapai, tindakan itu sudah di nilai baik.
Sebagai konsekuensi dari kedua prinsip itu, kewajiban adalah hal yang niscaya dari tindakan yang dilakukan berdasarkan sikap hormat pada hokum moral universal.

b) EtikaTeleologi
Yaitu mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Misalnya, mencuri bagi etika teleologi tidak dinilai baik atau buruk berdasarkan baik buruknya tindakan itu sendiri, melainkan oleh tujuan dan akibat dari tindakan itu.

4. Egoisme
Egoisme adalah cara untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang menguntungkan bagi dirinya sendiri, dan umumnya memiliki pendapat untuk meningkatkan citra pribadi seseorang dan pentingnya - intelektual, fisik, sosial dan lainnya. Egoisme ini tidak memandang kepedulian terhadap orang lain maupun orang banyak pada umunya dan hanya memikirkan diri sendiri egois ini memiliki rasa yang luar biasa dari sentralitas dari 'Aku adalah':. Kualitas pribadi mereka Egotisme berarti menempatkan diri pada inti dunia seseorang tanpa kepedulian terhadap orang lain, termasuk yang dicintai atau dianggap sebagai "dekat," dalam lain hal kecuali yang ditetapkan oleh egois itu.
Teori eogisme atau egotisme diungkapkan oleh Friedrich Wilhelm Nietche yang merupakan pengkritik keras utilitarianisme dan juga kuat menentang teori Kemoralan Sosial. Teori egoisme berprinsip bahwa setiap orang harus bersifat keakuan, yaitu melakukan sesuatu yang bertujuan memberikan manfaat kepada diri sendiri. Selain itu, setiap perbuatan yang memberikan keuntungan merupakan perbuatan yang baik dan satu perbuatan yang buruk jika merugikan diri sendiri.

Kata "egoisme" merupakan istilah yang berasal dari bahasa latin yakni ego, yang berasal dari kata Yunani kuno - yang masih digunakan dalam bahasa Yunani modern - ego (εγώ) yang berarti "diri" atau "Saya", dan-isme, digunakan untuk menunjukkan sistem kepercayaannya. Dengan demikian, istilah ini secara etimologis berhubungan sangat erat dengan egoism filosofis.







Referensi:

1. DR. A. Sonny Keraf. 2006. Etika Bisnis. Yogyakarta : Kanisius
2. Lobbecke dan Arrens.1996.Etika Profesi
3. http://idshvoong.com/social-sciences/psychology/2292935-pengertian-egois/#ixzz2guIFKMIf
4. www.wikipedia.org/wiki/Egoisme

Jumat, 04 Oktober 2013

GAMBARAN UMUM ETIKA


1.      Pengertian Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata 'etika' yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan. Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukanatau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).
K. Bertens berpendapat bahwa arti kata ‘etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut dapat lebih dipertajam dan susunan atau urutannya lebih baik dibalik, karena arti kata ke-3 lebih mendasar daripada arti kata ke-1. Sehingga arti dan susunannya menjadi seperti berikut :
1. nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu            kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Misalnya, jika orang berbicara tentang etika orang Jawa, etika agama Budha, etika Protestan dan sebagainya, maka yang dimaksudkan etika di sini bukan etika sebagai ilmu melainkan etika sebagai sistem nilai. Sistem nilai ini bisaberfungsi dalam hidup manusia perorangan maupun pada taraf sosial.
            2. kumpulan asas atau nilai moral.
Yang dimaksud di sini adalah kode etik. Contoh : Kode Etik Jurnalistik
            3. ilmu tentang yang baik atau buruk.     
Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan  nilai-nilai `tentang yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat dan sering kali tanpa disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Etika di sini sama artinya dengan filsafat moral.
2.      Norma-norma Umum
Norma-norma umum adalah aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat. Norma Umum dibagi menjadi 3 bagian antara lain:
ð  Norma sopan santun, atau norma etiket, adalah norma yang mengatur pola perilaku dan sikap lahiriah manusia, misalnya menyangkut sikap dan perilaku seperti bertamu, makan dan minum, duduk, berpakaian dan sebagainya. Norma ini lebih menyangkut tata cara lahiriah dalam pergaulan sehari-hari.Norma ini tidak menentukan baik buruknya seseorang sebagai manusia. Karena, ia hanya menyangkut sikap dan perilaku lahiriah. Kendati perilaku dan sikap lahiriah bisa menentukan pribadi seseorang, tidak dengan sendirinya sikap ini menentukan sikap moral seseorang.
ð  Norma hukum adalah norma yang dituntut keberlakuannya secara tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu dan niscaya demi keselamatan dan kesejahteraan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Norma ini mencerminkan harapan, keinginan, dan keyakinan seluruh anggota masyarakat tersebut tentang bagaimana hidup bermasyarakat yang baik dan bagaimana masyarakat tersebut harus diatur secara baik. Karena itu, ia mengikat semua anggota masyarakat tanpa kecuali.
ð  Norma moral yaitu aturan mengenai sikap dan perilaku manusia sebagai manusia. Norma ini menyangkut aturan tentang baik buruknya, adil tidaknya tindakan dan perilaku manusia sejauh ia dilihat sebagai manusia. Norma moral lalu menjadi tolok ukur yang dipakai oleh masyarakat untuk menentukan baik buruknya tindakan manusia sebagai manusia, entah sebagai anggota masyarakat ataupun sebagai orang dengan jabatan atau profesi tertentu. Norma moral diharapkan untuk dipatuhi oleh setiap orang tanpa mempedulikan sanksi atau hukuman -  karena memang norma moral tidak mengenal sanksi semacam itu.

·         Etika Deontologi
Yaitu menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. 
Tiga prinsip yang harus dipenuhi:
 Supaya suatu tindakan punya nilai moral, tindakan itu harus dijalankan berdasarkan kewajiban.  Nilai moral dari tindakan itu tidak tergantung pada tercapainya tujuan dari tindakan itu melainkan tergantung pada kemauan baik yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan itu-berarti kalaupun tujuannya tidak tercapai, tindakan itu sudah di nilai baik. Sebagai konsekuensi dari kedua prinsip itu, kewajiban adalah hal yang niscaya dari tindakan yang dilakukan berdasarkan sikap hormat pada hokum moral universal.
·    EtikaTeleologi
Yaitu mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Misalnya, mencuri bagi etika teleologi tidak dinilai baik atau buruk berdasarkan baik buruknya tindakan itu sendiri, melainkan oleh tujuan dan akibat dari tindakan itu.


 kesimpulan: 
jadi gambaran umum etika itu prilaku kita dalam kehidupan sehari-hari atau dengan masyarakat lain. Manusia dituntun untuk menjalankan etikanya pada saat tertentu misalnya ketika kita berbicara yang sopan kepada  orang lain dan berprilaku baik terhadap orang lain. Patuhilah norma yang berlaku dalam adat istiadat maupun dalam lingkungan sekitar. Norma merupakan tolak ukur bagi kita untuk membatasi perbuatan buruk atau menghindari perbuatan maupun prilaku yang buruk, dengan adanya norma dalam kehidupan akan lebih teratur dan tertib. 









Sumber:
DR. A. Sonny Keraf. 2006. Etika Bisnis. Yogyakarta : Kanisius.